Eunoia
(Oleh Dhessy Choi)
Pagi hari itu, Luna bergegas untuk pergi ke tempat kerjanya. Ia makan dengan lahap dan mengunci pintu segera. Lift yang Luna gunakan hari itu berjalan dengan sangat mulus tidak seperti biasanya. Ia tidak terlalu memikirkannya dan langsung berlari menuju perempatan, karena harus segera mengejar kereta yang akan berangkat lima menit lagi. Tak hanya Luna, setiap pagi memang selalu banyak orang yang menyeberang di lampu merah itu.
Lampu tanda boleh menyeberang sudah menyala dan Luna mulai berjalan melewatinya. Namun, secara tiba-tiba melajulah sebuah mobil minivan yang sedang menuju ke arah Luna dengan kecepatan tinggi. Akan tetapi tubuh Luna menjadi kaku dan sulit bergerak karena syok, ia hanya bisa pasrah karena mustahil untuk lari pada saat itu. “Mungkin inilah akhirnya, akhir dari hidupku yang malang. Lagipula aku hidup sebatang kara di dunia ini, tidak ada yang akan merindukanku. Selamat tinggal”. Air mata Luna mulai berlinang dan seketika mobil tersebut menabrak Luna hingga tewas ditempat.
Pandangan Luna menjadi hitam semua, tapi dia masih bisa mendengar suara seorang pria sedang berbicara. Luna merasa pusing dan tubuhnya lemas, ia mencoba untuk membuka matanya. Pria itu menepuk bahu Luna untuk membuatnya terbangun. Luna pun bangun dan melihat sekitarnya, semuanya terasa asing dan sangat berbeda, dimanakah sebenarnya Luna ini. “Hah... Syukurlah, akhirnya kau bangun.” Ucap lega pria itu. Luna bingung dimanakah sebenarnya dia saat ini, kepalanya penuh dengan pertanyaan. “Uhm, permisi. Apakah ini yang dinamakan akhirat?” Tanya Luna. Pria itu tertawa dengan keras hingga matanya sedikit berair. Luna bingung dan berpikir mungkin saja dia orang aneh yang menculiknya.
Pria itu berhenti tertawa dan mulai berbicara dengan nada tegas. “Baiklah, perkenalkan aku adalah Kaiserus dewa kehidupan yang agung di semesta ini. Kau beruntung karena bertemu denganku”. “Benarkah kau seorang dewa? Aku ragu” jawab Luna. Pria itu langsung menyanggahnya “Tentu saja aku ini seorang dewa yang agung! Hmm....lupakanlah, aku memiliki tugas untuk menghidupkanmu kembali. Maka dari itu, sebutkanlah permintaanmu”. Luna spontan menjawab “Wah benarkah? Kalau begitu aku ingin hidup sebagai seorang wanita cantik yang awet muda dan punya kekuatan super, aku juga ingin hidup ditempat yang sunyi dan damai”. Dewa itu pun mengangguk dan berkata “Baiklah, akan kuwujudkan. Akan tetapi ada syaratnya, kau hanya perlu membantu seseorang di kehidupanmu selanjutnya, orang itu akan mendatangimu sendiri dan meminta bantuan. Apakah kau bersedia?” Jawab Kaiserus. Luna langsung menjawab dengan yakin ”Ya, aku bersedia. Akan ku usahakan dan kujalani kehidupan kali ini dengan gembira”. Kaiserus pun menjentikkan jarinya, seketika Luna berpindah dimensi dari ruang angkasa menuju bukit yang dikelilingi pepohonan rindang.
Luna menatap sekelilingnya dan menemukan sebuah rumah kayu. Rumah itu terlihat masih baru dibangun dan tanpa pikir panjang Luna memasukinya untuk sekedar berteduh. Di dalamnya penuh dengan perabotan, seakan-akan memang sudah disiapkan oleh Dewa yang ia jumpai tadi. Ia kemudian bergegas mencari cermin, betapa terkejutnya ia melihat wajahnya yang cantik, berkulit putih pucat, bermata biru cerah, dan berambut panjang berwarna merah. Luna tak percaya bahwa itulah dirinya saat ini. Ia terkagum dan bersemangat.
Tiga tahun berlalu sejak saat itu, Luna tetap tinggal di rumah tersebut karena tidak ditemukan siapa pemiliknya. Selama tinggal, ia mencoba beradaptasi dengan sekitarnya. Di bawah bukit terdapat desa kecil yang memiliki penduduk yang tidak begitu banyak. Meskipun begitu banyak toko yang menyediakan berbagai kebutuhan. Desa itu sangat damai dan tidak terdapat satupun monster yang menyerang. Setiap hari Luna belajar ilmu sihir dan obat-obatan, ia dibekali bakat yang luar biasa sehingga dia dapat menguasainya dengan sangat cepat. Keahliannya tersebut sering ia gunakan untuk membantu penduduk di desa, semua orang merasa terbantu dengan kehadiran Luna yang bagaikan anugerah dari Dewa.
Hingga suatu hari ketika Luna pulang kerumahnya, ia terkejut melihat pintu yang terbuka. Luna menjadi waspada karena takut pencuri atau monster masuk ke rumahnya. Ia pun memasukinya dan menatap sekitar, ternyata tidak ada siapapun didalamnya. “Hah.... Ternyata bukan apa-apa” Luna merasa lega dan menghela nafas. Ia beranjak ke dapur untuk menyimpan makanan pemberian penduduk desa tadi, namun ia terkejut ketika melihat seseorang sedang duduk disana menatapnya dengan ekspresi datar. Pria misterius itu memiliki telinga lancip, rambut pirang, mata hijau menyala yang mengingatkan Luna akan Elf, makhluk mitologi yang berumur panjang dan hidup di dalam hutan. Luna kagum dengan wajahnya yang terlihat seperti pahatan patung dan dalam hati dia berkata “Di-dia sempurna, ah...ada apa denganku”. Elf itu menatap kosong ke arah Luna, Luna heran bagaimana bisa seorang elf berada di rumahnya, tapi Luna tiba-tiba teringat dengan ucapan dewa Kaiserus dulu, mungkin elf ini yang dimaksudnya untuk Luna bantu.
Luna mencoba untuk mendekati elf itu dan bertanya “Ada apakah wahai dirimu datang ke kediamanku? Apakah kau sedang mencari bantuan?”. Elf itu mengangguk dan menjawab “Ya, maafkan aku karena masuk tanpa izin. Aku adalah Arion seorang Elf hijau, aku sangat membutuhkan pertolonganmu, kudengar ada penyihir hebat yang tinggal di bukit ini. Aku ingin meminta bantuanmu dengan sangat tulus”. Luna heran mengapa dirinya dipanggil penyihir hebat “Memangnya aku sehebat itu, ya?” meskipun begitu ia mencoba untuk mendengarkan dulu penjelasan elf tersebut.
Setelah diceritakan ternyata hutan tempat Arion sang Elf tinggal dilanda wabah, tanah dan tanaman disana menjadi kering dan beracun. Meskipun mereka dapat menyembuhkannya, namun kali ini sulit karena sudah sangat parah. Banyak elf yang terdampak dan mati karena keracunan. Arion sebagai calon kepala suku elf hijau berikutnya pergi untuk mencari pertolongan. Luna merasa iba dengan cerita Arion, ia memutuskan untuk ikut ke hutan dan membantu para elf “Baiklah, ayo kita segera pergi. Tunjukanlah aku jalannya”. Arion menjadi sumringah karena akhirnya ada yang bersedia membantunya.
Sesampainya di hutan, Luna merasakan hawa yang tidak sehat. Tempat itu sudah tidak layak huni, ia khawatir dengan keadaan para elf. Ternyata Arion sudah meminta semua elf untuk mengungsi di daerah yang tidak jauh. Setelah diteliti, ternyata ditemukan racun yang sengaja disebar pada tanah di hutan tersebut. “Apakah ada yang sengaja menumpahkan racun disini?” Tanya Luna pada Arion. “Tidak ada yang melakukannya, aku sudah menanyakannya kepada semua elf. Lagipula kami tidak mungkin melakukannya, kami semua adalah makhluk yang diciptakan untuk menjaga alam” Jawab Arion. Luna juga menanyakan apakah ada orang lain yang pernah datang atau kelompok yang tidak menyukai mereka. “Aku ingat sesuatu, sekitar tiga bulan yang lalu pasukan kerajaan memang melewati hutan ini secara tiba-tiba, kami pikir mereka hanya lewat untuk menuju medan perang.” Jawab Arion. “Apakah kerajaan memiliki hubungan yang baik dengan suku elf?” Tanya Luna. Arion menggelengkan kepalanya dan menjawab “Tidak, tidak pernah. Bahkan sejak dahulu mereka sering mendiskriminasi kami dan terus mendesak agar kami meninggalkan negeri ini”.
Luna berasumsi mungkin saja ini ulah kerajaan. Menurut penduduk desa, raja yang saat ini berkuasa merupakan seorang tiran yang jahat. Selain itu, untuk apa para ksatria lewat kesini untuk pergi berperang. Terdapat rute yang lebih mudah untuk pergi ke perbatasan dibandingkan hutan. Luna menyudahi pemikirannya dan mulai memurnikan hutan tersebut dengan kekuatan sihirnya. Ia mengangkat tongkat sihirnya kemudian angin kencang berhembus dan cahaya hijau mulai menyinari sekitarnya. Melihat hal itu Arion mencoba untuk membantu Luna dengan kemampuan yang ia miliki. Cahaya itu semakin terang dan anginnya semakin kuat, Luna terlihat kesulitan bertahan. Tanah yang kering mulai subur kembali, akar dan pepohonan mulai menghijau dan berbuah. Memang butuh waktu lama, namun Luna berhasil memurnikan hutan tersebut. Namun, ia kelelahan dan pingsan ditempat.
“Uhm... Apakah sudah selesai?” gumam Luna mencoba bangun dari pingsannya. Para elf berkumpul di dekatnya dan serentak mengucapkan terimakasih, wajah mereka penuh dengan sukacita. Luna merasa lega karena dirinya dapat membantu dan berguna bagi orang lain. Arion mendekati Luna dan berkata “Terimakasih nona penyihir kau telah membantu kami semua, sekarang kami dapat tinggal di hutan ini lagi dengan damai”. Luna tersenyum dan berkata “Ya, sama-sama. Tapi jangan panggil aku nona penyihir, pa-panggil saja aku Luna”. Arion tertawa dan mengiyakannya “Baiklah, terimakasih Luna”. Luna memalingkan wajahnya dan menutupi pipinya yang mulai memerah, “Ah... bagaimana bisa elf ini terlihat sangat tampan”.
Keadaan semakin membaik, para elf mulai kembali ke rumahnya masing-masing. Beberapa yang keracunan Luna sembuhkan dengan ramuan obat mandraguna yang ia buat. Beberapa hari kemudian keadaan kembali seperti semula, hingga tiba saatnya penobatan Arion sebagai kepala suku elf hijau. Semua elf merayakannya, Luna juga ikut hadir. Sejak saat itu, Luna sering berkunjung ke hutan untuk membantu, Luna dan Arion juga menjadi semakin dekat. Mereka saling berbagi cerita, mengenal satu sama lain, dan akhirnya, mereka saling jatuh cinta. Cinta mereka tumbuh di antara keindahan alam yang mereka jaga bersama-sama.







0 Komentar